Senin, 24 Desember 2012

Karakter


  Karakter
Wynne dan Walberg (1984) mendefinisikan karakter merupakan mengembangkan nilai-nilai moral yang sesuai dengan perilaku atau kata - kata. Sedangkan menurut Pritchard (1988), karakter adalah sesuatu yang relatif menetap dan kompeks tentang kualitas individu seseorang, dan pada umumnya karakter ini berkonotasi positif ketika dipakai dalam perbincangan mengenai pendidikan moral. Perkembangan karakter merupakan hasil perpaduan dari suatu proses formal pendidikan sepanjang hidup dan pendididan informal (Stoll dan Beller, 2000), dan karakter terbentuk dari hubungan tiga dimensi yang saling terkait, yaitu: pengetahuan, nilai, dan sesuatu tindakan yang benar (Lickona, 1989).
Dua batasan tersebut merupakan contoh pengertian karakter yang bersifat normatif. Dalam tataran praktis, istilah karakter sering muncul dalam berbagai literatur, surat kabar, media elektronik serta berbagai ungkapan dari pelatih, orang tua, dan masyarakat pada umumnya. Pengertian dalam konteks itu lebih menekankan karakter ditinjauan dari pengertian sosial daripada tinjauan yang bermakna moral. Arnold (1999), mengatakan bahwa karakter dalam terminologi nilai sosial mencakup aspek-aspek kerjasama tim, loyalitas, pengorbanan diri, etika kerja, dan ketekunan yang dinamakan sebagai “karakter sosial”. Sedangkan nilai moral yang disebut sebagai “karakter moral” mencakup aspek-espek kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Dua perbedaan istilah tersebut berlaku dalam konteks olahraga. Lumpkin, Stoll dan Beller (2002), mengatakan bahwa nilai-nilai karakter sosial itu mencakup loyalitas, dedikasi, pengorbanan, kerjasama tim, dan warga yang baik. Sedangkan karakter moral mencakup aspek-aspek nilai kejujuran, keadilan, tindakan yang wajar terhadap orang lain, adil, dan tanggung jawab. Jika dicermati maka faktor-faktor yang terkait dengan masalah karakter (sosial maupun moral) seperti, kerjasama tim, menjadi warga yang baik, kejujuran, keadilan, tindakan yang wajar terhadap orang lain, dan tanggung jawab merupakan aspek-aspek yang dapat dikembangkan melalui olahraga. Namun demikian menurut Lumpkin, Stoll dan Beller (2002) olahraga lebih berdimensi nilai sosial, maka perkembangan karakter melalui olahraga dapat membantu atlet lebih memahami makna nilai – nilai sosial daripada nilai – nilai moral dan tindakan mereka diatas nilai moral.
Penelitian dalam aspek kepribadian merupakan bagian yang lebih umum dari karakter menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepribadian antara cabang olahraga pegulat, perenang, pemain baseball, pemain bolabasket dan pemain football (H. Slusher dalam Singgih, 1989). Sejalan dengan ini, Singer (dalam Cox, 2002) mengatakan bahwa berdasarkan observasi yang dilakukan terhadap pemain baseball (olahraga tim) dalam beberapa aspek kepribadian berbeda dengan pemain tennis (olahraga individual).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar